Secara nasional Indonesia memiliki berat timbunan sampah mencapai 200 ribu ton per hari atau setara dengan 73 juta ton per tahun

Secara nasional Indonesia memiliki berat timbunan sampah mencapai 200 ribu ton per hari atau setara dengan 73 juta ton per tahun. Sampah yang dihasilkan per individu setiap harinya sekitar 0,8 kilogram. Jika populasi penduduk di kota Metropolitan lebih dari satu juta jiwa dan populasi penduduk di kota besar sekitar 500 ribu sampai satu juta jiwa, maka sampah yang dihasilkan adalah 1.300 ton dan 480 ton. Semakin banyak populasi penduduk dari suatu daerah maka akan meningkatkan populasi sampah. Sampah di Indonesia paling banyak bersumber dari rumah tangga atau disebut dengan limbah domestik (Prawira, 2014).

Limbah domestik yang dihasikan oleh rumah tangga terdiri dari bahan organik dan anorganik. Sayur merupakan limbah organik yang umumnya bersifat biodegradable yaitu senyawa yang dapat terurai menjadi senyawa sederhana sehingga lebih mudah ditangani (Kurniawan, 2010). Tetapi hingga saat ini penanganan limbah organik masih belum optimal, masyarakat hanya membuang limbah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) disetiap wilayah. Cara ini tidak efektif untuk mengurangi pencemaran lingkungan karena penumpukan limbah di TPA membuat lahan TPA cepat penuh dan kurang efektif dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu akan berdampak pada pencemaran lingkungan yang lebih buruk karena menimbulkan bau yang tidak sedap, sumber penyakit dan penumpukan limbah juga dapat menyebabkan pengeluaran gas metana yang menyebabkan global warming (Dewi, 2017).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Proses biodegradasi dapat dijadikan solusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah domestik secara efektif, ekonomis, dan efisien. Penanganan limbah domestik secara biologi ini memanfaatkan peran mikroba dalam proses penguraian limbah organik menjadi senyawa yang lebih sederhana. Mikroba memanfaatkan limbah organik dengan aktivitas enzimatis dari mikroba. Adanya sistem enzim mikroba mengakibatkan terjadinya metabolisme zat organik sehingga dihasilkan karbon dioksida, air dan energi untuk pertumbuhan dan reproduksinya (Husin, 2008). Dalam limbah sayur terkandung bahan organik dan serat tinggi seperti selulosa. Selulosa adalah karbohidrat yang umumnya terdapat pada tanaman. Sayur mengandung selulosa hampir 50% sehingga dapat digunakan sebagai media pertumbuhan mikroba (Chen-chin et al, 2009). Ekoenzim yang disekresikan mikroba dapat menguraikan molekul kompleks menjadi sederhana, sehingga dapat mengurai limbah organik yang bersifat biodegradable (Albinas L, 2003). Gabungan beberapa mikroba atau biasa disebut dengan konsorsium biasanya lebih efektif dalam meningkatkan laju degradasi dibandingkan dengan satu jenis mikroba (Notodarmojo, 2005).

Mikroba yang dapat mengurai senyawa organik dapat diperoleh dari berbagai sumber, salah satunya mikroba yang berasal dari tanah. Dalam proses metabolismenya mikroba berperan penting dalam menguraikan zat organik dalam tanah (Notodarmojo, 2005). Tanah kebun memiliki potensi untuk dilakukan eksplorasi dan isolasi mikroba tanah karena banyak mengandung senyawa organik dan mineral yang dibutuhkan mikroba untuk pertumbuhannya (Kanti, 2005). Tanah kebun yang digunakan sebagai sampel penelitian adalah tanah Kebun Tanaman Obat di Fakutas Farmasi Unjani, dimana tanah kebun ini memiliki sekitar 70 jenis tanaman obat yang tumbuh subur. Keanekaragaman hayati yang tumbuh subur diatas tanah berkaitan erat dengan mikroba yang ada di dalam tanah (Saono, 2000). Oleh karena itu, perlu dilakukan eksplorasi untuk mengetahui jenis mikroba yang dapat mendegradasi zat-zat organik yang dapat membantu pertumbuhan tanaman di kebun tersebut. Hasil isolat mikroba tanah yang mampu mendegradasi zat-zat organik tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah domestik yang terus meningkat dengan proses biodegradasi.